GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Sumbu Filosofi Yogyakarta Diyakini Layak Menjadi Warisan Budaya ...

Sumbu Filosofi Yogyakarta Diyakini Layak Menjadi Warisan Budaya ...

DIY Sumbu Filosofi Yogyakarta Diyakini Layak Menjadi Warisan Budaya Dunia Sumbu filosofi sendiri merupakan garis lurus yang membentang dari Tugu Pal …

Sumbu Filosofi Yogyakarta Diyakini Layak Menjadi Warisan Budaya ...

DIY

Sumbu Filosofi Yogyakarta Diyakini Layak Menjadi Warisan Budaya Dunia

Sumbu filosofi sendiri merupakan garis lurus yang membentang dari Tugu Pal Putih, menuju Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, hingga Panggung Krapyak

Sumbu Filosofi Yogyakarta Diyakini Layak Menjadi Warisan Budaya Duniatribunjogja/hamimthohariMiniatur banguan yang menjadi bagian dari Sumbu Filosofi pembangun Yogyakarta

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Yogyakarta dengan sumbu filosofinya, tercatat telah masuk dalam tentative list United Nations Educational, Scientific dan Cultural Organization (UNESCO), sebagai salah satu calon warisan budaya dunia, sejak tahun 2017.

Sumbu filosofi sendiri merupakan garis lurus yang membentang dari Tugu Pal Putih, menuju Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, hingga Panggung Krapyak, yang menggambarkan perjalanan hidup manusia, sejak lahir, hingga menemui ajalnya.

Oleh sebab itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mulai bergerak dengan membentuk sebuah tim penyiapan, yang mengemban tugas untuk memastikan seluruh syarat dan kelengkapan Yogyakarta dengan sumbu filosofinya, menuju status warisan budaya dunia.

Baca: Penataan Malioboro Tak Lepas dari Semangat Pertegas Sebagai Sumbu Filosofis

Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Singgih Raharjo, mengatakan bahwa tim terbagi dalam tiga divisi, yakni steering commitee yang diisi Sekda DIY, Kepala Bappeda DIY, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, serta Asisten Keistimewan Setda DIY.

Kemudian, terdapat pula organizing commite dan kelompok kerja.

"Selain soal kelengkapan dokumen, tim ini juga bertugas memastikan masyarakat di sekitar sumbu filosofi, supaya memiliki pemahaman yang sama. Masyarakat pun diharapkan ikut melestarikan budaya di sekitar sumbu filosofi ini," katanya, Senin (2/7/2018).

Ia menjelaskan, setiap divisi memiliki tugas masing-masing, sesuai denga tupoksi.

Lanjutnya, kelompok kerja lebih bayak menangani permasalahan teknis, sedangkan organizing commite, yang berisikan para pakar, mengemban tugas yang bersifat keilmuan.

Baca: Jurnalis Yogya Kritik Warganet melalui Film Sumbu Pendek

"Seluruh anggota divisi di tim ini sudah mulai bekerja, sejak dibentuk beberapa waktu lalu," terangnya.

Sampai sejauh ini, tutur Singgih, pihaknya telah mengirimkan dossier, atau dokumen kepada UNESCO.

Namun, untuk kelanjutannya, masih menunggu dossier tersebut selesai dibahas dan perwakilan UNESCO akan datang ke Yogyakarta, untuk melakukan monitoring.

Walau begitu, ia meyakini, Yogyakarta, dengan sumbu filoso finya, benar-benar layak menjadi salah satu warisan budaya dunia, karena sangat jarang dijumpai di belahan bumi lain.

Akan tetapi, tambahnya, proses menuju ke sana bakal memakan waktu yang tidak sebentar.

"Ya, yang kami yakini seperti itu, kan sangat jarang ada tata kota yang dibangun dengan filosofi tinggi, serta perhitungan luar biasa seperti Yogyakarta ini," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: aka Editor: Ari Nugroho Sumber: Tribun Jogja Ikuti kami di Kronologi Ratna Sarumpaet Cekcok dengan Menteri Luhut hingga Diusir Keluarga Korban KM Sinar Bangun Sumber: Berita Yogyakarta

No comments