Ini Sejarah dan Makna Sedekah Laut atau Labuhan Menurut Tradisi ... | Liputan 24 Yogyakarta
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Ini Sejarah dan Makna Sedekah Laut atau Labuhan Menurut Tradisi ...

Posted by On 4:02 PM

Ini Sejarah dan Makna Sedekah Laut atau Labuhan Menurut Tradisi ...

Ini Sejarah dan Makna Sedekah Laut atau Labuhan Menurut Tradisi Kraton Yogyakarta

Sedekah laut atau labuhan merupakan budaya yang banyak ditemukan di DIY. Kraton Yogyakarta sendiri memiliki agenda rutin

Ini Sejarah dan Makna Sedekah Laut atau Labuhan Menurut Tradisi Kraton YogyakartaTribun Jogja/Amalia Nurul FathonatyKRT Rinta Iswara menjelaskan hajat dalem labuhan merupakan napak tilas sejarah kerajaan Mataram, Minggu (14/10/2018) siang di Balai Desa Pleret.

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sedekah laut atau labuhan merupakan budaya yang banyak ditemukan di DIY. Kraton Yogyakarta sendiri memiliki agenda rutin untuk hajat da lem labuhan.

Diungkapkan oleh Penghageng Tepas Widya Budaya KRT Rinta Iswara, Kraton Yogyakarta secara rutin menggelar labuhan di empat tempat sebagai napak tilas sejarah kerajaan Mataram.

"Tempat-tempat yang bersejarah bagi eksistensi Mataram yakni Parangkusumo/Mancingan (bibir pantai), wredi (gunung) Merapi, Lawu, dan hutan Ndlepih Kahyangan," jelasnya pada kesempatan sarasehan labuhan laut di Balai Desa Pleret, Minggu (14/10/2018) siang.

Lanjutnya, waktu digelarnya labuhan tersebut pun juga telah ditentukan.

"Pada masa pemerintahan HB IX, hajat dalem labuhan digelar pada wiyosan dalem. Masa HB X digelar pada peringatan jumenengan dalem 29 Rejeb. Acara labuhan digelar sehari setelah upacara tingalan dalem jumenengan yakni 30 Rejeb," urainya.

Waktu digelarnya labuhan tersebut ditentukan berdasar kalender Jawa.

"Semua upacara yang digelar Kraton berlandaskan perhitungan kalender Jawa," ungkapnya.

Uboramp e yang dilabuh pun bermacam-macam.

"Uborampe ini ada sinjang, semekan, dhestar, atau ageman dalem Sinuhun ingkang boten diagem (pakai raja yang sudah tidak dipakai lagi)," jelasnya.

Labuhan sendiri berasal dari kata bahasa Jawa 'labuh' yang diberi akhiran (-an).

Halaman selanjutnya 12
Penulis: amg Editor: ose Sumber: Tribun Jogja Ikuti kami di Wanita Selingkuh dengan Oknum Polisi, Suami dan Keluarga Ikut Menggerebek di Kamar Kos Sumber: Berita Yogyakarta | Disclaimer: Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis s epenuhnya.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »